Tampilkan postingan dengan label Mualaf Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mualaf Tokoh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 September 2011

Perjalanan Mantan Penasihat Presiden Nixon Menemukan Islam

Berbagai posisi penting dalam pemerintahan Amerika Serikat (AS) pernah ditempati Robert Dickson Crane. Dia pernah menjabat sebagai penasihat politik luar negeri untuk Presiden AS ke-37, Richard Nixon, dari 1963 sampai 1968, dan untuk waktu yang sangat singkat menjabat wakil direktur perencanaan Dewan Keamanan Nasional pada masa pemerintahan Nixon, serta menjadi duta besar untuk Uni Emirat Arab (UEA) di masa pemerintahan Presiden Ronald Reagan.

Setelah memeluk Islam, lelaki kelahiran Cambridge, Massachusetts, AS, 26 Maret 1929 ini lebih banyak berkecimpung dalam berbagai kegiatan yang mengkampanyekan tentang Islam. Perjalanan Crane dalam menemukan Islam cukup panjang. Nenek moyang Crane dari garis ibu berasal dari daratan Eropa yang bermigrasi ke wilayah Amerika.

Keluarganya datang ke New Haven, Connecticut, pada 1636. Beberapa di antara mereka menetap di Elizabethtown (sekarang Elizabeth), New Jersey. Sementara nenek dari pihak ayahnya berasal dari suku Indian Cherokee. Meski berasal dari kalangan suku Indian, namun keluarga besar Crane tetap menomorsatukan urusan pendidikan. Ayah Crane merupakan seorang pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Harvard.

Sementara keluarga besar ibunya dikenal publik Amerika sebagai salah satu penyokong finansial Universitas Northwestern. Karenanya tak mengherankan jika sedari kecil hingga dewasa ia mendapatkan pendidikan yang memadai.

Selepas menamatkan pendidikan menengah atas, Crane sempat berkuliah di Universitas Harvard, namun tidak sampai tamat. Kemudian ia melanjutkan pendidikan setingkat sarjana muda di Universitas Northwestern. Setelah lulus dari Northwestern, ia diminta untuk membantu menjalankan usaha keluarga.

Kemudian kedua orang tuanya memintanya untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Harvard. Sejak muda, Crane gemar menulis berbagai artikel. Salah satu artikel yang pernah ditulisnya adalah mengenai strategi ruang angkasa Soviet. Ketika pecah Krisis Misil Kuba, ia menulis sebuah artikel panjang tentang strategi perang psikis.

“Saya sudah menduga bahwa Soviet akan memenangkan krisis misil itu. Setiap orang berpikir bahwa Amerika Serikat akan menundukkan mereka, tetapi bagi saya jelas bahwa tujuan Krushchev (pemimpin Soviet kala itu, red) bukanlah mengintimidasi atau menggunakan misinya untuk melawan Amerika Serikat. Tujuannya adalah mengkonsolidasi kekuatan Komunis di Kuba. Caranya adalah dengan memasang misil-misil tersebut, kemudian menariknya kembali dengan jaminan komitmen Amerika agar tidak mencampuri urusan Fidel Castro, itulah yang sebenarnya terjadi,’’ papar Crane dalam buku American Jihad, Islam After Malcolm X, karya Steven Barbosa.

Tanpa ia duga, artikel tersebut dibaca oleh mantan orang nomor satu di Amerika, Richard Nixon. Nixon membacanya di atas pesawat dalam penerbangan dari California ke New York. “Dia memanggil saya segera setelah mendarat, pada Januari 1963, dan bertanya apakah saya bersedia menjadi penasihatnya untuk urusan politik luar negeri,” ungkap Crane.

Sebagai penasihat presiden tentunya ia harus menguasai berbagai aspek persoalan terkait dengan politik luar negeri. Tugas utamanya saat itu adalah mengumpulkan artikel-artikel terbaik pada setiap pokok persoalan dan menggabungkan semua artikel tersebut menjadi buku ringkasan untuk dibaca oleh Nixon.

Berbagai macam artikel dibacanya, salah satunya adalah mengenai agama. Ia tertarik untuk membaca tentang bermacam-macam agama. Dan dia ingin mengetahui tentang Islam. “Saat itu saya telah membaca sedikit tentang Islam, sebab saya pikir Islam akan menjadi sekutu Amerika Serikat yang paling kuat dan tahan lama untuk melawan Komunisme. Sebab kami berdua, saya dan Nixon, memandang Komunisme sebagai ancaman dunia,” tutur Crane.

Saat Nixon hendak mencalonkan diri sebagai Presiden AS, Crane termasuk salah satu orang terdekat Nixon yang tidak memberikan dukungan. Terlebih lagi pemikirannya yang kerap berseberangan dengan ketua tim sukses Henry Kissinger, membuatnya disingkirkan selama masa kampanye 1968.

Setelah terpilih menjadi Presiden AS ke-37, Nixon menunjuk Crane menjadi wakil direktur perencanaan untuk Dewan Keamanan Nasional. Sementara posisi direktur dipegang oleh Kissinger. Namun, hubungannya yang kurang harmonis dengan Kissinger membuat Crane tersingkir dari Dewan Keamanan Nasional.

Crane mengakui pada awalnya tidak pernah memikirkan Islam secara serius. Yang diketahuinya tentang Islam hanyalah bahwa Muslim yang baik harus membunuh orang Kristen dan surga orang Muslim seperti rumah pelacuran. “Saya sangat muak dan tidak pernah berhasrat mempelajari agama ini. Agama ini sangat primitif. Dan saya menasihati Nixon untuk menggunakan Islam sebagai sekutu untuk melawan komunis. Saya pikir Islam adalah agama yang menjijikkan, tetapi paling tidak, dapat digunakan untuk melawan komunisme,” kata dia memaparkan.

Tetapi, sebuah perjamuan makan di Bahrain mengubah pandangannya tentang Islam. Saat itu musim panas tahun 1977, Crane beserta istrinya sedang berada di Bahrain. Di tengah suhu yang begitu panas, sang istri memintanya menemani melihat-lihat istana di Al-Muharraq, yang merupakan kota dagang tertua di dunia. Kota ini hanya terdiri dari lorong-lorong sempit, seperti sebuah jaringan jalan yang semrawut.

Kondisi jalan yang semrawut ini membuat Crane dan istrinya tersesat di tengah keramaian. Dalam kondisi bingung, tiba-tiba ada orang tua lewat di depannya dan mengajak Crane ke rumahnya yang berada tidak jauh dari lokasinya saat itu. Crane beserta istri kemudian menghabiskan sisa hari mereka di sana. Sang tuan rumah menjamu mereka dengan berbagai macam makanan.

“Kami berbicara tentang berbagai hal, dan dia mengatakan bahwa dia seorang Muslim. Saya sungguh terpesona karena dia benar-benar orang baik. Kami tidak pernah membicarakan tentang Islam. Kami berbincang tentang apa-apa yang baik di dunia, tentang hal-hal yang buruk di dunia, dan tentang apa yang penting di dunia. Juga tentang peran Tuhan di dunia, tetapi tidak mengenai agama Islam,’’ ujar dia mengenang.

Momen tersebut benar-benar membekas dalam dirinya. Setelah perjamuan tersebut, Crane mulai berpikir apakah sebaiknya ia mulai mempelajari agama Islam. Ia pun mempelajari Islam, dan menyadari bahwa segala sesuatu dalam Islam adalah benar-benar apa yang selama ini selalu diyakininya.

Pada tahun 1980, ia berkesempatan mengikuti sebuah konferensi tentang gerakan Islam di New Hampshire. Seluruh pemikir besar dari gerakan Islam dunia hadir di sana. Ketika waktu makan siang tiba, Crane lebih memilih bergabung bersama para tamu asing. Yang ada dalam pikirannya saat itu hanyalah keinginan untuk belajar sebanyak mungkin dari mereka.

Tanpa banyak bertanya, Crane kemudian mengikuti langkah para delegasi asing ini ke sebuah ruangan yang lantainya ditutupi permadani. Semula ia mengira mereka akan makan siang. Namun, dia baru menyadari kalau hari itu adalah hari Jumat.

“Mereka akan melakukan shalat Jumat. Saya memutuskan sebaiknya saya meninggalkan mereka. Tetapi saya pikir itu akan menyinggung perasaan mereka. Lalu saya hanya duduk di bagian belakang ruangan,” ujar. Yang bertindak selaku imam shalat saat itu adalah Hasan Al-Turabi, seorang tokoh terkemuka gerakan Islam internasional asal Sudan. Menyaksikan Al-Turabi bersujud, Crane pun terhenyak sesaat.

“Saya menyadari bahwa dia membungkuk kepada Allah. Jika dia dapat bersujud kepada Allah maka itu artinya dia sepuluh kali lebih baik dari saya. Saya memutuskan bahwa saya juga harus bersujud,” batinnya. Dia merasa mendapatkan teladan dari situ. Saat itu juga, Crane bersujud dan memutus kan untuk menjadi seorang Muslim.

Kamis, 01 September 2011

Kisah Singkat Sigit Nugroho, Dahulu Atheis Kini Ketua Talk Show Ramadhan 2011


Kisah Singkat Sigit Nugroho, Dahulu Atheis Kini Ketua Talk Show Ramadhan 2011

Sigit Nugroho
REPUBLIKA.CO.ID, Sore itu di gedung Fatahilah Masjid Sunda Kelapa (Sabtu, 13 Agustus 2011) sebuah kegiatan diskusi digelar dengan tema Kesalehan Sosial. Diskusi itu dihadiri oleh para mualaf.

Dalam acara tersebut ada salah satu anggota yang cukup menarik perhatian. Dia adalah Sigit Nugroho Wartawan senior Bola yang memiliki jaringan luas di tingkat Internasional. Ia adalah seorang mualaf yang kini mendirikan OLE!.

Pria kelahiran Semarang, 6 Oktober 1965 ini adalah anak tunggal dari pasangan Letkol Pol Djati Koenjtono(Alm) dan Soeharsi. Selain sebagai seorang wartawan ia juga berfrofesi sebagai komentator olah raga disejumlah stasiun televisi swasta dan juga stasiun tv nasional.

Sigit mengaku sudah dua tahun memeluk Islam. Sebelum memilih Islam, ia sebelumnya telah melewati tiga fase agama dalam kehidupannya.

Pertama ia dulu seorang yang tidak beragama (atheis), kemudian ia masuk menjadi orang khatolik. Tak beberapa lama kemudian ia keluar dari agama tersebut dan kemudian menjadi seorang Muslim

Kini Sigit mengakui lebih giat untuk memperdalam ajaran agama islam dan tidak akan mempermainkan agama seperti sebelumnya. Ada pengalaman religi yang ia ungkapkan setelah dirinya memeluk agama Islam.

Ia mengaku dahulu sebelum dirinya menjadi seorang mualaf, ia merasakan ketidaktenangan dalam hidup. Tak hanya itu, ia merasa uang hasil kerjanya tak bisa dinikmati dengan baik karena membuat tubuh jadi panas.

Namun kini setelah ia masuk dan memeluk agama islam, ia merasakan ketenangan dalam hidup dan uang hasil kerjanya dapat dinikmati tanpa ada keganjilan.

Setelah benar-benar mencoba menjadi seorang Muslim yang taat ibadah dan mempunyai pengetahuan agama, Sigit merasakan kedamaian dan ketenangan jiwa dalam menjalani kehidupan. "Islam menjadikann saya pribadi yang sabar dan ikhlas dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan," ujarnya.

Dahulu. tutur Sigit, ia selalu menyerah dalam menghadapi setiap masalah yang sedang dihadapinya. Ia juga mengaku tidak mempunyai seorang teman pun untuk membantunya mencari jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapinya.

Kini setelah menjadi seorang Muslim ia mempunyai banyak teman dan selalu terbantu dalam memecahkan permasalah yang ada dalam kehidupannya. Diisinilah ia mengetahui arti islam yang sebenarnya.

Ramadhan selalu dimaknai Sigit sebagai bulan yang sangat istimewa, karena pada saat bulan suci ini, ia bisa lebih bersabar dalam menghadapi setiap permasalahan yang datang. Kondisi itu menjadikan dirinya mempunyai ketegaran iman yang kuat dalam memaknai kehidupan yang baru sebagai seorang muslim.

Ramadhan kali ini ia juga mempunyai tugas yang cukup berat namun sekaligus pengalaman cukup berarti. Pasalnya ia menjadi ketua umum dalam acara kegiatan Talk Show Ramadhan 2011 yang diadakan bersama para mualaf yang ada di Jakarta.

Dalam penggalangan dana, ternyata ia mengalami kesulitan. “Untuk urusan agama ko masih banyak ya yang sulit sekali beramal dan menyisihkan sedikit hartanya di bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah ini” tuturnya.

Kini sebagai seorang Muslim, ia pun juga mempunyai keinginan mengajak para mualaf yang lain untuk lebih giat mempelajari ilmu agama islam dan mengetahui pengetahuan yang luas tentang ajaran islam.

Sigit pun memberikan sedikit saran kepada para mualaf lain yang datang di acara diskusi ini. "Sebagai eorang mualaf kita harus benar-benar pegang teguh agama ini, janganlah kalian main-mainkan ajaran Islam ini, dan para mualaf yang lain harus tetap semangat menghadapi cobaan yang begitu sulit, apalagi setelah kita mengucap ikrar keimanan," ujarnya.

Ki Mantep Sudharsono : Sudah Mantap dalam Islam


Nama Ki Manteb agaknya identik dengan penampilannya yang mantap dalam memainkan wayang kulit. Ia termasuk dalang yang digandrungi dan laris. Jadwal pentasnya padat. Berikut ini kisah perjalanan spiritulanya dalam mencari kebahagiaan yang hakiki. Terus terang, saya mendapatkan dorongan untuk masuk Islam dari Gatot Tetuki, anak saya yang kedua dari istri kedua. Dahulu saya beragama Budha. Sebelumnya saya tidak mau masuk Islam, karena menurut saya agama itu berat. Saya tidak mau ikut-ikutan. Apakah untuk menjadi seorang muslim itu harus keturunan ? Menurut saya, menjadi muslim itu harus diusahakan.
Demikianlah, saya harus banyak menimbang. Barulah ketika usai menghitankan Gatot dan ia minta diberangkatkan umrah, hati saya mulai tersentuh. Itu saya anggap sebagai panggilan Allah. Saya seperti diingatkan dan dibangunkan dari tidur panjang. Langsung saja, ajakan Gatot saya terima. Sesudah itu, saya mempersiapkan diri untuk masuk Islam.

Pada hari yang telah ditetapkan, saya mengundang Kiai Ali Darokah (Ketua MUI Solo), H. Amir Ngruki, H. Alwi, dan kaum muslimin di sekitar tempat tinggal saya. Mereka saya minta menjadi saksi upacara pengislaman saya.

Kemudian sesuai ajakan Gatot, saya melaksanakan umrah pada September 1995. Alhamdulillah, pada bulan April/Mei 1996, saya berkesempatan menunaikan ibadah haji. Banyak manfaat yang saya peroleh dari pengalaman-pengalaman tersebut. Semua itu, menambahkan kedewasaan berpikir dan pengendalian diri.

Kejadian Aneh
Waktu beribadah haji, saya mengalami suatu kejadian sangat aneh. Sesampai di Mekah dan akan kembali ke Madinah, sesudah tawaf wada' saya ingin sekali mencium Hajar Aswad. Tetapi, mana mungkin? Padang Mina sudah menjadi lautan manusia yang tumplek menjadi satu.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba muncul seorang anak kecil berpakaian khas Arap ngawe-awe (mengajak sambil melambaikan tangan) kearah saya. Setelah saya hampiri, anak kecil itu mengucapkan, "Ahlan...ahlan..."(selamat datang, selamat datang, red.).

Seperti ada tarikan kuat, saya berjalan mengikutinya. Anak itu berjalan merunduk karena banyak orang. Oleh anak kecil itu, saya seperti ditunjukkan jalan. Belok kanan-kiri dan akhirnya pas tiba di Hajar Aswad. Alhamdulillah, saya dapat mencium Hajar Aswad sepuasnya. Saya menangis disitu. Saya bersyukur sekali atas pertolongan anak kecil itu.

Beberapa saat kemudian saya teringat pada anak itu. Saya ingat masih mengantongi uang 50 real. Saya berniat memeberikan uang tersebut kepada anak kecil tadi. Tetapi begitu saya tengok, anak kecil tadi sudah tidak ada. Kalau lari tidak mungkin. Sampai kini, siapa dan ke mana perginya anak kecil tadi masih menjadi misteri.

Setelah memeluk Islam dan beribadah haji, hubungan dengan siapa pun tetap baik. Demikian pula dengan para pengrawit (penabuh gamelan, red) rombongan wayang kulit. Sebagian besar pengrawit sudah beragama Islam. Tinggal 3 orang yang belum Islam. Dalah hal ini, saya mempersilahkan saja sesuai dengna keyakinan mereka. Sebab, dalam memeluk Islam tidak boleh ada paksaan.

Merasa Tenteram
Sebelum memeluk Islam, jika tidak mendalang seminggu saja, saya selalu merasa waswas. "Aku nek ra payu, piye?" Saya kalau sudah tidak laku lagi, bagaimana? Begitu perasaan saya ketika itu.

Alhamdulillah, sekarang perasaan itu sudah tidak ada lagi. Saya berusaha taat shalat. Hasilnya, saya menjadi lebih dapat mengendalikan diri. Saya menjadi selalu berpikir positif ke pada Allah. Kalau memang sudah tidak ada rezeki lagi buat saya, tentu Allah sudah memanggil saya. Mengapa harus bingung? Intinya, pikiran sudah sumeleh. Alhamdulillah, keluarga saya sudah Islam semua.

Setelah masuk Islam, saya merasakan hasilnya. Keluarga semakin harmonis dan tenteram. Tidak suka bertengkar. Tidak ada suasana saling mencurigai. Itu yang saya rasakan dalam memeluk agama yang baru saya anut itu.

Beberapa kali saya diminta mengisi pengajian oleh masyarakat. Semampunya saya penuhi. Bukan bermaksud menggurui, tetapi itu kewajiban seorang muslim. Dalam pengajian, saya hanya menceritakan sejarah hidup saya yang dulu tidak karu-karuan, mbejujak.

Alhamdulillah, ada beberapa orang yang akhirnya mengikuti jejak saya, yaitu masuk Islam. Ketika berlangsung pengajian, ada jamaan yang bertanya, apa kalau ceramah saya mendapatkan uang saku? Dengan jujur saya jawab tidak. Sebab, kalau mau cari-cari uang, itu sudah saya dapatkan dari mendalang.

Setelah menjadi muslim, saya harus lebih banyak belajar dalam mendalami Islam. Dalam hal ini, dirumah saya di Karang anyar, setiap bulan sekali saya selalu mendatangkan mubalig, seperti Kiai Ali Darokah, H.Amir, H. Alwi dan yang lainnya, untuk memberikan pengajian kepada masyarakat. Setelah itu, saya teruskan dengan pentas wayang yang selalu saya sisipi dengan pesan-pesan dakwah. Saya memang terobsesi oleh metode dakwah Wali Songo yang menjadikan wayang kulit sebagai media dakwah. [M. Ali M.E/Albaz]

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites