Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2011

Sejarah Islam Di Indonesia

BABAK PERTAMA, ABAD 7 MASEHI (ABAD 1 HIJRIAH).

Pada abad 7 masehi, Islam sudah sampai ke Nusantara. Para Dai yang datang ke Indonesia berasal dari jazirah Arab yang sudah beradaptasi dengan bangsa India yakni bangsa Gujarat dan ada juga yang telah beradaptasi dengan bangsa Cina, dari berbagai arah yakni dari jalur sutera (jalur perdagangan) dakwah mulai merambah di pesisir-pesisir Nusantara. Sejak awal Islam tidak pernah membeda-bedakan fungsi seseorang untuk berperan sebagai dai (juru dakwah). Kewajiban berdakwah dalam Islam bukan hanya kasta (golongan) tertentu saja tetapi bagi setiap masyarakat dalam Islam. Sedangkan di agama lain hanya golongan tertentu yang mempunyai otoritas menyebarkan agama, yaitu pendeta. Sesuai ungkapan Imam Syahid Hasan Al-Bana “ Nahnu du‟at qabla kulla syai“ artinya kami adalah dai sebelum profesi-profesi lainnya. Sampainya dakwah di Indonesia melalui para pelaut-pelaut atau pedagang-pedagang sambil membawa dagangannya juga membawa akhlak Islami sekaligus memperkenalkan nilai-nilai yang Islami. Masyarakat ketika berbenalan dengan Islam terbuka pikirannya, dimuliakan sebagai manusia dan ini yang membedakan masuknya agama lain sesudah maupun sebelum datangnya Islam. Sebagai contoh masuknya agama Kristen ke Indonesia ini berbarengan dengan Gold (emas atau kekayaan) dan glory (kejayaan atau kekuasaan) selain Gospel yang merupakan motif penyebaran agama berbarengan dengan penjajahan dan kekuasaan. Sedangkan Islam dengan cara yang damai. Begitulah Islam pertama-tama disebarkan di Nusantara, dari komunitas-komunitas muslim yang berada di daerah-daerah pesisir berkembang menjadi kota-kota pelabuhan dan perdagangan dan terus berkembang sampai akhirnya menjadi kerajaan-kerajaan Islam dari mulai Aceh sampai Ternata dan Tidore yang merupakan pusat kerajaan Indonesia bagian Timur yang wilayahnya sampai ke Irian jaya.

B. BABAK KEDUA, ABAD 13 MASEHI.
Di abad 13 Masehi berdirilah kerajaan-kerajaan Islam diberbagai penjuru di Nusantara. Yang merupakan moment kebangkitan kekuatan politik umat khususnya didaerah Jawa ketika kerajaan Majapahit berangsur-angsur turun kewibawaannya karena konflik internal. Hal ini dimanfaatkan oleh Sunan Kalijaga yang membina di wilayah tersebut bersama Raden Fatah yang merupaka keturunan raja-raja Majapahit untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa yaitu kerajaan Demak. Bersamaan dengan itu mulai bermunculan pula kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya, walaupun masih bersifat lokal.

SEJARAH AWAL MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA 01
Pada abad 13 Masehi ada fenoma yang disebut dengan Wali Songo yaitu ulama-ulama yang menyebarkan dakwah di Indonesia. Wali Songo mengembangkan dakwah atau melakukan proses Islamisasinya melalui saluran-saluran:
a) Perdagangan
b) Pernikahan
c) Pendidikan(pesantren)
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang asli dari akar budaya indonesia, dan juga adopsi dan adaptasi hasanah kebudayaan pra Islam yang tidak keluar dari nilai-nilai Islam yang dapat dimanfaatkan dalam penyebaran Islam. Ini membuktikan Islam sangat menghargai budaya setempat selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
d) Senidanbudaya
Saat itu media tontonan yang sangat terkenal pada masyarakat jawa kkhususnya yaitu wayang. Wali Songo menggunakan wayang sebagai media dakwah dengan sebelumnya mewarnai wayang tersebut dengan nilai-nilai Islam. Yang menjadi ciri pengaruh Islam dalam pewayangan diajarkannya egaliterialisme yaitu kesamaan derajat manusia di hadapan Allah dengan dimasukannya tokoh-tokoh punakawam seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Para Wali juga menggubah lagu-lagu tradisional (daerah) dalam langgam Islami, ini berarti nasyid sudah ada di Indonesia ini sejak jaman para wali. Dalam upacara-upacara adat juga diberikan nilai-nilai Islam.
e) Tasawwuf
Kenyatan sejarah bahwa ada tarikat-tarikat di Indonesia yang menjadi jaringan penyebaran agama Islam.
C. BABAK KETIGA, MASA PENJAJAHAN BELANDA.
Pada abad 17 masehi tepatnya tahun 1601 datanglah kerajaan Hindia Belanda kedaerah Nusantara yang awalnya hanya berdagang tetapi akhirnya menjajah. Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya yakni VOC, semejak itu hampir seluruh wilayah nusantara dijajah oleh Hindia Belanda kecuali Aceh. Saat itu antar kerajaan-kerajaan Islam di nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong. Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek kehidupan tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh para Ulama saat itu. Ketika penjajahan datang, mengubah pesantren-pesantren menjadi markas-markas perjuangan, santri-santri (peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah sedangkan ulamanya menjadi panglima perangnya. Hampir seluruh wilayah di Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap penjajah adalah kaum muslimin beserta ulamanya. Potensi-potensi tumbuh dan berkembang di abad 13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaan-kerajaan Islam yang syair-syairnya berisikan perjuangan. Ulama-ulama menggelorakan Jihad melawan kaum kafir yaitu penjajah Belanda. Belanda mengalami kewalahan yang akhirnya menggunakan strategi-strategi: Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu domba antara kekuatan Ulama dengan adat contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang Diponegoro dijawa.
Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar seorang Guru Besar keIndonesiaan di Universitas Hindia Belanda juga seorang orientalis yang pernah mempelajari Islam di Mekkah, dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai melakukan politik praktis. Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah satunya adalah pembatasan terhadap kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji karena pada saat itulah terjadi pematangan pejuangan terhadap penjajahan

D. BABAK KEEMPAT, ABAD 20 MASEHI
Awal abad 20 masehi, penjajah Belanda mulai melakukan politik etik atau politik balas budi yang sebenarnya adalah hanya membuat lapisan masyarakat yang dapat membantu mereka dalam pemerintahannya di Indonesia. Politik balas budi memberikan pendidikan dan pekerjaan kepada bangsa Indonesia khususnya umat Islam tetapi sebenarnya tujuannya untuk mensosialkan ilmu-ilmu barat yang jauh dari Al-Qur‟an dan hadist dan akan dijadikannya boneka-boneka penjajah. Selain itu juga mempersiapkan untuk lapisan birokrasi yang tidak mungkin pegang oleh lagi oleh orang-orang Belanda. Yang mendapat pendidikanpun tidak seluruh masyarakat melainkan hanya golongan Priyayi (bangsawan), karena itu yang pemimpin-¬pemimpin pergerakan adalah berasalkan dari golongan bangsawan. Strategi perlawanan terhadap penjajah pada masa ini lebih kepada bersifat organisasi formal daripada dengan senjata. Berdirilah organisasi Serikat Islam merupakan organisasi pergerakan nasional yang pertama di Indonesia pada tahun 1905 yang mempunyai anggota dari kaum rakyat jelata sampai priyayi dan meliputi wilayah yang luas. Tahun 1908 berdirilah Budi Utomo yang bersifat masih bersifat kedaerahan yaitu Jawa, karena itu Serikat Islam dapat disebut organisasi pergerakan Nasional pertama daripada Budi Utomo. Tokoh Serikat Islam yang terkenal yaitu HOS Tjokroaminoto yang memimpin organisasi tersebut pada usia 25 tahun, seorang kaum priyayi yang karena memegang teguh Islam maka diusir sehingga hanya menjadi rakyat biasa. Ia bekerja sebagai buruh pabrik gula. Ia adalah seorang inspirator utama bagi pergerakan Nasional di Indonesia. Serikat Islam di bawah pimpinannya menjadi suatu kekuatan yang diperhitungkan Belanda. Tokoh-tokoh Serikat Islam lainnya ialah H. Agus Salim dan Abdul Muis, yang membina para pemuda yang tergabung dalam Young Islamitend Bound yang bersifat nasional, yang berkembang sampai pada sumpah pemuda tahun 1928. Dakwah Islam di Indonesia terus berkembang dalam institusi-institusi seperti lahirnya Nadhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. Lembaga-lembaga ke-Islaman tersebut tergabung dalam MIAI (Majelis Islam „Ala Indonesia) yang kemudian berubah namanya menjadi MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) yang anggotanya adalah para pimpinan institusi-institusi ke-Islaman tersebut. Di masa pendudukan Jepang, dilakukan strategi untuk memecah-belah kesatuan kekuatan umat oleh pemerintahan Jepang dengan membentuk kementrian Sumubu (Departemen Agama). Jepang meneruskan strategi yang dilakukan Belanda terhadap umat Islam. Ada seorang Jepang yang faham dengan Islam yaitu Kolonel Huri, ia memotong koordinasi ulama-ulama di pusat dengan di daerah, sehingga ulama-ulama di desa yang kurang informasi dan akibatnya membuat umat dapat terbodohi. Pemerintahan pendudukan Jepang memberikan fasilitas untuk kemerdekaan Indonesia dengan membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan dilanjuti dengan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan lebih mengerucut lagi menjadi Panitia Sembilan, Panitia ini yang merumuskan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945. Piagram Jakarta merupakan konsensus tertinggi untuk menggambarkan adanya keragaman Bangsa Indonesia yang mencari suatu rumusan untuk hidup bersama. Tetapi ada kalimat yang kontroversi dalam piagam ini yaitu penghapusan “7 kata “ lengkapnya kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya yang terletak pada alinea keempat setelah kalimat Negara berdasarkan kepada Ketuhan Yang Maha Esa.

SEJARAH AWAL MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA 03
E. BABAK KELIMA, ABAD 20 & 21.
Pada babak ini proses dakwah (Islamisasi) di Indonesia mempunyai ciri terjadinya globalisasi informasi dengan pengaruh-pengaruh gerakan Islam internasional secara efektif yang akan membangun kekuatan Islam lebih utuh yang meliputi segala dimensinya. Sebenarnya kalau saja Indonesia tidak terjajah maka proses Islamisasi di Indonesia akan berlangsung dengan damai karena bersifat kultural dan membangun kekuatan secara struktural. Hal ini karena awalnya masuknya Islam yang secara manusiawi, dapat membangun martabat masyarakat yang sebagian besar kaum sudra (kelompok struktur masyarakat terendah pada masa kerajaan) dan membangun ekonomi masyarakat. Sejarah membuktikan bahwa kota-kota pelabuhan (pusat perdagangan) yang merupakan kota-kota yang perekonomiannya berkembang baik adalah kota-kota muslim. Dengan kata lain Islam di Indonesia bila tidak terjadi penjajahan akan merupakan wilayah Islam yang terbesar dan terkuat. Walaupun demikian Allah mentakdirkan di Indonesia merupakan jumlah peduduk muslim terbesar di dunia, tetapi masih menjadi tanda tanya besar apakah kualitasnya sebanding dengan kuantitasnya. BAB III
PROSES ISLAMISASI DAN PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA Pada masa kedatangan dan penyebaran Islam di Indonesia terdapat beraneka ragam suku bangsa, organisasi pemerintahan, struktur ekonomi, dan sosial budaya. Suku bangsa Indonesia yang bertempat tinggal di daerah-daerah pedalaman, jika dilihat dari sudut antropologi budaya, belum banyak mengalami percampuran jenis-jenis bangsa dan budaya dari luar, seperti dari India, Persia, Arab, dan Eropa. Struktur sosial, ekonomi, dan budayanya agak statis dibandingkan dengan suku bangsa yang mendiami daerah pesisir. Mereka yang berdiam di pesisir, lebih-lebih di kota pelabuhan, menunjukkan ciri-ciri fisik dan sosial budaya yang lebih berkembang akibat percampuran dengan bangsa dan budaya dari luar.

A. PROSES ISLAMISASI DI INDONESIA

Dalam masa kedatangan dan penyebaran Islam di Indonesia, terdapat negara-negara yang bercorak Indonesia-Hindu. Di Sumatra terdapat kerajaan Sriwijaya dan Melayu; di Jawa, Majapahit; di Sunda, Pajajaran; dan di Kalimantan, Daha dan Kutai. Agama Islam yang datang ke Indonesia mendapat perhatian khusus dari kebanyakan rakyat yang telah memeluk agama Hindu. Agama Islam dipandang lebih baik oleh rakyat yang semula menganut agama Hindu, karena Islam tidak mengenal kasta, dan Islam tidak mengenal perbedaan golongan dalam masyarakat. Daya penarik Islam bagi pedagang-pedagang yang hidup di bawah kekuasaan raja-raja Indonesia-Hindu agaknya ditemukan pada pemikiran orang kecil. Islam memberikan sesuatu persamaan bagi pribadinya sebagai anggota masyarakat muslim. Sedangkan menurut alam pikiran agama Hindu, ia hanyalah makhluk yang lebih rendah derajatnya daripada kasta-kasta lain. Di dalam Islam, ia merasa dirinya sama atau bahkan lebih tinggi dari pada orang-orang yang bukan muslim, meskipun dalam struktur masyarakat menempati kedudukan bawahan.
demikian, pada tahap permulaan islamisasi dilakukan dengan saling pengertian akan kebutuhan & disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya. Pembawa dan penyebar agama Islam pada masa-masa permulaan adalah golongan pedagang, yang sebenarnya menjadikan faktor ekonomi perdagangan sebagai pendorong utama untuk berkunjung ke Indonesia. Hal itu bersamaan waktunya dengan masa perkembangan pelayaran dan perdagangan internasional antara negeri-negeri di bagian barat, tenggara, dan timur Asia. Kedatangan pedagang-pedagang muslim seperti halnya yang terjadi dengan perdagangan sejak zaman Samudra Pasai dan Malaka yang merupakan pusat kerajaan Islam yang berhubungan erat dengan daerah-daerah lain di Indonesia, maka orang-orang Indonesia dari pusat-pusat Islam itu sendiri yang menjadi pembawa dan penyebar agama Islam ke seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Tata cara islamisasi melalui media perdagangan dapat dilakukan secara lisan dengan jalan mengadakan kontak secara langsung dengan penerima, serta dapat pula terjadi dengan lambat melalui terbentuknya sebuah perkampungan masyarakat muslim terlebih dahulu. Para pedagang dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri, berkumpul dan menetap, baik untuk sementara maupun untuk selama-lamanya, di suatu daerah, sehingga terbentuklah suatu perkampungan pedagang muslim. Dalam hal ini orang yang bermaksud hendak belajar agama Islam dapat datang atau memanggil mereka untuk mengajari penduduk pribumi. Selain itu, penyebaran agama Islam dilakukan dgn cara perkawinan antara pedagang muslim dgn anak-anak dari orang-orang pribumi, terutama keturunan bangsawannya. Dengan perkawinan itu, terbentuklah ikatan kekerabatan dgn keluarga muslim. Media seni, baik seni bangunan, pahat, ukir, tari, sastra, maupun musik, serta media lainnya, dijadikan pula sebagai media atau sarana dalam proses islamisasi. Berdasarkan berbagai peninggalan seni bangunan dan seni ukir pada masa-masa penyeberan agama Islam, terbukti bahwa proses islamisasi dilakukan dgn cara damai. Kecuali itu, dilihat dari segi ilmu jiwa dan taktik, penerusan tradisi seni bangunan dan seni ukir pra-Islam merupakan alat islamisasi yang sangat bijaksana dan dengan mudah menarik orang-orang nonmuslim untuk dengan lambat-laun memeluk Islam sebagai pedoman hidupnya. Dalam perkembangan selanjutnya, golongan penerima dapat menjadi pembawa atau penyebar Islam untuk orang lain di luar golongan atau daerahnya. Dalam hal ini, kontinuitas antara penerima dan penyebar terus terpelihara dan dimungkinkan sebagai sistem pembinaan calon-calon pemberi ajaran tersebut. Biasanya santri-santri pandai, yang telah lama belajar seluk-beluk agama Islam di suatu tempat dan kemudian kembali ke daerahnya, akan menjadi pembawa dan penyebar ajaran Islam yang telah diperolehnya. Mereka kemudian mendirikan pondok-pondok pesantren. Pondok pesantren merupakan lembaga yang penting dalam penyebaran agama Islam. Agama Islam juga membawa perubahan sosial dan budaya, yakni memperhalus dan memperkembangkan budaya Indonesia. Penyesuaian antara adat dan syariah di berbagai daerah di Indonesia selalu terjadi, meskipun kadang-kadang dalam taraf permulaan mengalami proses pertentangan dalam masyarakat. Meskipun demikian, proses islamisasi di berbagai tempat di Indonesia dilakukan dengan cara yang dapat diterima oleh rakyat setempat, sehingga kehidupan keagamaan masyarakat pada umumnya menunjukkan unsur campuran antara Islam dengan kepercayaan sebelumnya. Hal tersebut dilakukan oleh penyebar Islam karena di Indonesia telah sejak lama terdapat agama (Hindu-Budha) dan kepercayaan animisme.

Pada umumnya kedatangan Islam dan cara menyebarkannya kepada golongan bangsawan maupun rakyat umum dilakukan dengan cara damai, melalui perdagangan sebagai sarana dakwah oleh para mubalig atau orang-orang alim. Kadang-kadang pula golongan bangsawan menjadikan Islam sebagai alat politik untuk mempertahankan atau mencapai kedudukannya, terutama dalam mewujudkan suatu kerajaan Islam.

SEJARAH AWAL MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA 05

B. PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA
Kedatangan Islam di berbagai daerah di Indonesia tidaklah bersamaan. Demikian pula dengan kerajaan-kerajaan dan daerah yang didatanginya, ia mempunyai situasi politik dan sosial budaya yang berlainan. Pada waktu kerajaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya pada sekitar abad ke-7 dan ke-8, Selat Malaka sudah mulai dilalui oleh para pedagang muslim dalam pelayarannya ke negeri-negeri di Asia Tenggara dan Asia Timur. Berdasarkan berita Cina zaman T‟ang pada abad-abad tersebut, diduga masyarakat muslim telah ada, baik di kanfu (kanton) maupun di daerah Sumatra sendiri. Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang bersifat internasional antara negeri-negeri di Asia bagian barat atau timur mungkin disebabkan oleh kegiatan kerajaan Islam di bawah Bani Umayah di bagian barat maupun kerajaan Cina zaman dinasti T‟ang di Asia Timur serta kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara. Adalah suatu kemungkinan bahwa menjelang abad ke-10 para pedagang Islam telah menetap di pusat-pusat perdagangan yang penting di kepulauan Indonesia, terutama di pulau-pulau yang terletak di Selat Malaka, terusan sempit dalam rute pelayaran laut dari negeri-negeri Islam ke Cina. Tiga abad kemudian, menurut dokumen-dokumen sejarah tertua, permukiman orang-orang Islam didirikan di Perlak dan Samudra Pasai di Timur Laut pantai Sumatra. Saudagar-saudagar dari Arab Selatan semenanjung tanah Arab yang melakukan perdagangan ke tanah Melayu sekitar 630 M (tahun kesembilan Hijriah) telah menemui bahwa di sana banyak yang telah memeluk Islam. Hal ini membuktikan bahwa Islam telah masuk ke Indonesia sejak abad-abad pertama Hijriah, atau sekitar abad ke tujuh dan kedelapan Masehi yang dibawa langsung oleh saudagar dari Arab. Dengan demikian, dakwah Islam telah tiba di tanah Melayu sekitar tahun 630 M tatkala Nabi Muhammad saw. masih hidup. Keterangan lebih lanjut tentang masuknya Islam ke Indonesia ditemukan pada berita dari Marcopolo, bahwa pada tahun 1292 ia pernah singgah di bagian utara daerah Aceh dalam perjalanannya dari Tiongkok ke Persia melalui laut. Di Perlak ia menjumpai penduduk yang telah memeluk Islam dan banyak para pedagang Islam dari India yang giat menyebarkan agama itu. Para pedagang muslim menjadi pendukung daerah-daerah Islam yang muncul kemudian, dan daerah yang menyatakan dirinya sebagai kerajaan yang bercorak Islam ialah Samudra Pasai di pesisir timur laut Aceh. Munculnya daerah tersebut sebagai kerajaan Islam yang pertama diperkirakan mulai abad ke-13. Hal itu dimungkinkan dari hasil proses islamisasi di daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi para pedagang muslim sejak abad ketujuh. Sultan yang pertama dari kerajaan Islam Samudra Pasai adalah Sultan Malik al-Saleh yang memerintah pada tahun 1292 hingga 1297. Sultan ini kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Muhammad Malik az-Zahir. Kerajaan Islam Samudra Pasai menjadi pusat studi agama Islam dan meru pakan tempat berkumpul para ulama Islam dari berbagai negara Islam untuk berdis kusi tentang masalah-masalah keagamaan dan masalah keduniawian. Berdasarkan berita dari Ibnu Batutah, seorang pengembara asal Maroko yang mengunjungi Samudra Pasai pada 1345, dikabarkan bahwa pada waktu ia mengunjungi kerajaan itu, Samudra Pasai berada pada puncak kejayaannya. Dari catatan lain yang ditinggalkan Ibnu Batutah, dapat diketahui bahwa pada masa itu kerajaan Samudra Pasai merupakan pelabuhan yang sangat penting, tempat kapal-kapal datang dari Tiongkok dan India serta dari tempat-tempat lain di Indonesia, singgah dan bertemu untuk memuat dan membongkar barang-barang dagangannya.
Kerajaan Samudera Pasai makin berkembang dalam bidang agama Islam, politik, perdagangan, dan pelayaran. Hubungan dengan Malaka makin ramai, sehingga di Malaka pun sejak abad ke-14 timbul corak masyarakat muslim. Perkembangan masyarakat muslim di Malaka makin lama makin meluas dan akhirnya pada awal abad ke-15 berdiri kerajaan Islam Malaka. Para penganut agama Islam diberi hak-hak istimewa, bahkan telah dibangunkan sebuah masjid untuk mereka. Para pedagang yangsinggah di Malaka kemudian banyak yang menganut agama Islam dan menjadi penyebar agama Islam ke seluruh kepulauan Nusantara, tempat mereka mengadakan transaksi perdagangan. Kerajaan Malaka pertama kali didirikan oleh Paramisora pada abad ke-15. Menurut cerita, sesaat sebelum meninggal dalam tahun 1414, Paramisora masuk Islam, kemudian berganti nama menjadi Iskandar Syah. Selanjutnya, kerajaan Malaka dikembangkan oleh putranya yang bernama Muhammad Iskandar Syah (1414–1445). Pengganti Muhammad Iskandar Syah adalah Sultan Mudzafar Syah (1445–1458). Di bawah pemerintahannya, Malaka menjadi pusat perdagangan antara Timur dan Barat, dengan kemajuan-kemajuan yang sangat pesat, sehingga jauh meninggalkan Samudra Pasai. Usaha mengembangkan Malaka hingga mencapai puncak kejayaannya dilakukan oleh Sultan Mansyur Syah (1458–1477) sampai pd masa pemerintahan Sultan Alaudin Syah (1477–1488). Sementara itu, kedatangan pengaruh Islam ke wilayah Indonesia bagian timur (Sulawesi dan Maluku) tidak dapat dipisahkan dari jalur perdagangan yang terbentang antara pusat lalu lintas pelayaran internasional di Malaka, Jawa, dan Maluku. Menurut tradisi setempat, sejak abad ke-14, Islam telah sampai ke daerah Maluku. Disebutkan bahwa kerajaan Ternate ke-12, Molomateya (1350–1357), bersahabat karib dengan orang Arab yg memberinya petunjuk dalam pembuatan kapal, tetapi agaknya tidak dalam kepercayaan. Pada masa pemerintahan Marhum di Ternate, datanglah seorang raja dari Jawa yang bernama Maulana Malik Husayn yang menunjukkan kemahiran menulis huruf Arab yang ajaib seperti yang tertulis dalam Alquran. Hal ini sangat menarik hati Marhum dan orang-orang di Maluku. Kemudian, ia diminta oleh mereka agar mau mengajarkan huruf-huruf yang indah itu. Sebaliknya, Maulana Malik Husayn mengajukan permintaan, agar mereka tidak hanya mempelajari huruf Arab, melainkan pula diharuskan mempelajari agama Islam. Demikianlah Maulana Malik Husayn berhasil mengislamkan orang-orang Maluku. Raja Ternate yang dianggap benar-benar memeluk Islam adalah Zainal Abidin (1486–1500). Dari ketiga pusat kegiatan Islam itulah, maka Islam menyebar dan meluas memasuki pelosok-pelosok kepulauan Nusantara. Penyebaran yang nyata terjadi pada abad ke-16. Dari Malaka, daerah Kampar, Indragiri, dan Riau menjadi Islam. Dari Aceh, Islam meluas sampai ke Minangkabau, Bengkulu, dan Jambi. Dimulai sejak dari Demak, maka sebagian besar Pulau Jawa telah menganut agama Islam. Banten yang diislamkan oleh Demak meluaskan dan menyebarkan Islam ke Sumatra Selatan. Di Kalimantan, kerajaan Brunai yang pada abad ke-16 menjadi Islam, meluaskan penyebaran Islam di bagian barat Kalimantan dan Filipina. Sedangkan Kalimantan Selatan mendapatkan pengaruh Islam dari daratan Jawa. Dari Ternate semakin meluas meliputi pulau-pulau di seluruh Maluku serta daerah pantai timur Sulawesi. Pada abad ke-16 di Sulawesi Selatan berdiri kerajaan Goa. Demikianlah pada akhir abad ke-16 dapat dikatakan bahwa Islam telah tersebar dan mulai meresapkan akar-akarnya di seluruh Nusantara.

Meresapnya Islam di Indonesia pada abad ke-16 itu bersamaan pula dengan ditanamkannya benih-benih agama Katolik oleh orang-orang Portugis. Bangsa Portugis ini dikenal sebagai penentang Islam dan pemeluk agama Katolik fanatik. Maka, di setiap tempat yang mereka datangi, di sanalah mereka berusaha mendapatkan daerah tempat persemaian bagi agama Katolik. Hal ini menurut tanggapan mereka merupakan suatu tugas dan kewajiban yang mendapat dorongan dari pengalaman mereka menghadapi Islam di negeri mereka sendiri. Ketika pertahanan Islam terakhir di Granada jatuh pada 1492, maka dalam usaha mereka mendesak agama Islam sejauh mungkin dari Spanyol dan Portugis, mereka memperluas gerakannya sampai Timur Tengah yang waktu itu menjadi daerah perantara perdagangan rempah-rempah yang menghubungkan Timur dengan Barat. Timbullah kemudian suatu hasrat dalam jiwa

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN AGAMA DAN KEBUDAYAAN ISLAM DI JAZIRAH ARAB


Arab Sebelum Islam
1. Keadaan Alam dan Kehidupan Masyarakat
Arab Selatan
Didaerah Arab Selatan, Curah hujan cukup banyak masyarakatnya hidup
dengan bercocok tanam, sehingga tingkat peradabannya cukup tinggi. Disamping itu,
letaknya didalam dunia perdagangan sangat strategis (antara India dan Mesir). Di
daerah Kerajaan serba meliputi Kerajaan yaitu Kerajaan Saba. Daerah Kerajaan Saba
meliputi daerah Yaman sekarang. Bangsa Saba mempunyai sistem pengairan yang
baik. Terbukti dari adanya bendungan Ma’rib yang terkenal itu. Kerajaan Saba
banyak mendirikan daerah-daerah Koloni di Afrika (Pantai Laut Merah). Daerah
kolonialnya yang terkenal diantaranya adalah Abessyara (Habashat). Kerajaan Saba
runtuh pada tahun 575 SM ketika ditundukkan oleh Iran.
Arab Tengah
Sebagian besar daerahnya merupakan gurun pasir. Penduduknya hidup
berkelompok dan biasa disebut dengan suku Badawi. Mereka hidup dari hasil
peternakan dan perampasan kafilah-kafilah yang melewati daerah itu. Mereka adalah
pemberanai yang suka sekali berperang dan tidak mau tunduk kepada siapapun.
Disebut barat daerah Arab Tengan terdapat jalur perjalanan yang biasa
digunakan para kafilah untuk membawa barang-barang dari Asia dibawa ke syaria
diteruskan ke Eropa (Romawi).
Arab Utara
Arab Utara berbatasan dengan daerah-daerah yang sudah maju seperti
Romawi dan Iran. Daerah ini juga dengan jalur jalan raya Mesir-Romawi-Iran yang
bertemu di daerah Palestina merupakan daerah yang menjadi pusat peradaban tinggi
sejak jaman dahulu. Orang-orang Arab yang berada di daerah itu sudah banyak
mendapat pengaruh peradaban asing. Banyak dari mereka yang sudah masuk agama
Kristen atau Yahudi bahkan mereka pernah mempunyai Kerajaan sendiri yang
bernama kereja Nabatea dengan ibukotanya Petra (+ 200 SM-105 M) dan setelah itu
Kerajaan Palmyra (+ 250-273 M).
Kemudian muncul Kerajaan Ghassan (di syrra) yang memihak Romawi dan
Kerajaan Hira (di Irak) yang memihak Iran, kedua Kerajaan Arab ini tenggelam
ketika Islam mulai bergerak ke luar Arabia.
2. Tata Kehidupan Sosial
Masa Arab sebelum islam dikenal dengan sebutan zaman Jahiliya. Pada masa
ini bangsa tidak mempunyai pemerintahan yang rapi, karena tatanan kehidupan
mereka hanya diatur menurut kebiasaan yang diwariskan oleh leluhur mereka.
Mereka hidup berpindah tempat untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Hal ini
juga dipengaruhi oleh lingkungan tanah Arab yang bergurun pasir dan bergununggunung.
Mereka yang merupakan bangsa pemberani didalam membela pendiriannya
bahwa kalau perlu mereka berperang sampai titik darah penghabisan dalam
mempertahankan kepribadiaan Arabnya.
3. Adat Istiadat
Bangsa Arab pada zaman sebelum islam mempunyai adat istiadat penuh
dengan takhayul. Mereka juga dipandang memilki akhlak yang tidak pantas seperti
bermain judi, minum-minuman keras, dan berfoya-foya. Bahkan mereka melakukan
pencurian dan perampokan pada suku-suku yang lain, kalau tertangkap menimbulkan
perselisihan dan akhirnya terjadi peperangan antar suku bangsa di Arab.
Ada juga suku bangsa di Arab yang biasa melakukan tindakan kekejaman
yaitu dengan mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Menurut kepercayaan, anak
perempuan dipandang tidak berguna dan orang tuannya merasa hina jika memiliki
anak perempuan.
4. Kepercayaan Bangsa Arab Sebelum Islam
Asal mula bangsa arab menyembah berhala adalah ketika Ka’bah berada
dalam kekuasaan Jurhum. Ada pasukan yang dipimpn oleh Amir bin Luhay datang ke
Mekkah dan berhasil mengalahkan Jurhum kemudian Amir bin Luhay meletakkan
sebuah berhala besar yang bernama Hubal disisi Ka’bah dan memerintahkan
penduduk Hijaz agar menyembah berhala itu. Sejak saat itulah, bangsa Arab
menyembah berhala sampai suku bangsa Quraisy berkuasa kembali di Higas.
Disamping penyembah berhala, bangsa Arab juga menyembah binatang, jin
dan Hantu/syetan. Bila mengharapkan hujan mereka mengikat rumput-rumput pada
ekor kambing dan terus dibakar. Sesudah mengenal agama Yahudi dan kristen ada
juga sebagian dari bangsa Arab yang memeluk kedua agama itu.
Arab Sesudah Islam
Secara politis, agama islam telah dapat mempersatukan seluruh suku bangsa
Arab yang dahulunya terpecah belah dan berhasil membuat bangsa Arab menjadi
suatu bangsa yang kuat dan berderajat tinggi, hingga menjadi suatu bangsa yang
gilang gemilang.
Agama Islam pertama kali dibawah oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau
dilahirkan pada tanggal 20 April 571 M sebagai keturunan dari suku Quraisy. Pada
tahun 611 M ia mulai mengajarkan agama islam kepada bangsa arab di mekkah.
Ternyata penyebaran agama Islam pertama kali ditentang oleh orang-orang Mekkah,
terutama oleh orang Quraisy dibawah pimpinan Abu Sofyan. Maka, pada tanggal 12
Robiul Awal tahun 622 M Nabi Muhammad SAW Hijrah dari Mekkah ke Madinah.
Nabi Muhammad wafat pada tanggal 8 April 632 M di Madinah. Kemudian
kepemimpinan beliau digantikan oleh para Khafilah. Empat orang Khalifah yang
pertama disebut Khafilah ur Rasyidin yaitu Abu Bakar Siddik, Umar bin Khattab,
Usman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib.
Pada masa pemerintahana Khafilah Usman untuk pertama kalinya terjadi
perpecahan diantara umat islam yakni antara keluarga Khafilah Usman (Ummayah)
dengan keluarga khafilah Ali (Hashim) yang mengakibatkan timbunya Khalifahkhalifah
seperti Ummayah, Abbasiyah, Fatimah.
Perkembangan Islam Periode Mekkah
Pada awalnya agama islam hanya berkembang dikota Mekkah dan sekitarnya.
Namun awalnya agama islam hanya diterima oleh kalangan bahwa seperti orang
miskin, wanita pekerja maupun para budak. Sejak penyebaran agama Islam dilakukan
secara terbuka, muncul reaksi perlawanan yang menentang penyebaran islam seperti
penyiksaan ,ancaman keselamatan terhadap para pengikut Islam. Sehingga pada tahun
615 Nabi Muhammad SAW mengungsikan pengikutnya ke Habsyah, selanjutnya
menjadi Abbesinia (Ethiopia sekarang).
Faktor penyebab terjadinya perlawanan terhadap agama Islam bukan sematamata
karena masalah agama yang dipandang bertentangan dengan kepercayaan asli
masyarakat, tetapi karena faktor politik, yaitu khawatiran terhadap kemungkinan
keluarga Abu Muthalib menguasai Mekkah, faktor ekonomi yaitu menurunnya
pendapatan para pemahat patung dan faktor sosial, karena kaum bangsawan atau raja
tidak setuju derajatnya disamakan dengan rakyat biasa.
Perkembangan Islam Periode Madinah
Terjadinya perlawanan yang menentang penyebaran agama Islam dari
Mekkah, menyebabkan Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah dari Mekkah ke
Madinah. Tetpi sebelum hijrah dilakukan, telah terjadi peristiwa yang sangat penting,
yaitu peristiwa Isra’ dan Mi’raj pada tanggal 27 Rajab tahun 621 M.
Keadaan di Madinah sangat jauh berbeda dengan di Mekkah, kalau di
Mekkah, Nabi Muhammad SAW islam dimusuhi dan mendapat perlawanan sehingga
tidak mungkin untuk berkembang sedangkan di Madinah Nabi Muhammad SAW
disambut dengan gembira, karena kedatangan Nabi sudah lama diharapkan.
Di Madinah perkembangan agama Islam cukup pesat dan penganutnya
semakin bertambah banyak. Oleh karena itu, sejak Nabi Muhammad SAW menetap
di Madinah, maka masyarakat Madinah menjadi 4 golongan yaitu :
1. Kaum Muhajirin, terdiri atas orang-orang Mekkah yang ikut serta melakukan
hijrah dengan Nabi
2. Kaum Ashar, terdiri atas orang-orang Madinah yang membantu Nabi Muhammad
SAW
3. Kaum Munafiqin, terdiri dari mereka yang hanya ikut memeluk agama Islam
untuk mencari keuntungan lahiriah belaka
4. Kaum Yahudi, terdiridari golongan pengikut Nabi Musa yang mengetahui ajaran
Islam, tetapi tidak sudi meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi atau Rasul.
Setelah beberapa tahun lamanya Nabi Muhammad SAW menetap di Madinah,
akhirnya turun perintah jihad, yaitu perang. Perang ini ditunjukkan untuk melawan
Mekkah dan mempertahankan Ka’bah. Pertempuran sengit terjadi di gurun Badar dan
Uhud (tahun 630 M). ka’bah berhasil dikuasi oleh orang-orang Islam dan akhinya
penduduk Mekkah dalam waktu kurang lebih dua tahun sebagian besar Jazirah Arab
telah memeluk agama islam. Orang-orang Yahudi dan Kristen yang mengakui
kedaulatan agama Islam dibiarkan tetap memeluk agama mereka dan dilindungi harta
dan jiwanya.
Kemenangan umat Islam membawa bangsa Arab ke arah persatuan dan
kesatuan karena sudah lama bangsa itu hidup dalam perpecahan dan saling
bermusuhan. Nabi Muhammad SAW berhasil penuh dalam menjalankan tugas dan
kewajibannya sebagai Rasul dan pemimpin negara. Namun Nabi Muhammad SAW
tidak dapat mengenyam masa kejayaan Islam, karena sesudah menegakkan dasardasar
yang kukuh, pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun 632 M beliau wafat dan
dimakamkan di Madinah.
Kekhafilahan
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, muncullah para Khalifah. Fungsi
mereka menggantikan jabatan Nabi Muhammad SAW sebagai kepala negara, hakim
dan panglima perang. Jabatan khalifah ini terus berlangsung hingga tahun 1923 M
dan baru setelah Mustafa kemal Pasha menjadi kepala negara sistem kekhalifahan
dihapuskan. Muhammad V merupakan Khalifah terakhir.
Khalifah-khalifah yang pernah berkuasa diantaranya :
 Khalifah Abu Bakar
Ada beberapa tindakan yang penting dilaksanakan oleh Khalifah Abu Bakar
(632-634 M), diantaranya :
· Mengembalikan suku-suku Arab yang murtad ke agama Islam.
· Membasmi nabi-nabi palsu, seperti Tulaiha, Musilama dan lain-lain
· Mulainya pengumpulan lembaran surat-surat Al Qur’an
· Peramalan ekspansi Islam keluar Jazirah Arab
 Khalifah Umar Bin Khattab
Ada beberapa tindakan yang penting dari khafilah umar (634-644 M)
diantaranya :
· Tahun Hijrah dijadikan permulaan tahun Islam yaitu tahun 622 M sama
dengan 1 tahun Hijrah
· Daerah Islam diperluas sampai daerah perbatasan India dan Tripoli (di Afrika
Utara). Perluasan wilayah ke Asia kecil dan Persia dilakukan oleh Khalid bin
Al Walid sedang ke Afrika Utara dipimp Amir bin Al As
· Akibat perluasan wilayah itu, Islam mendapat kekuatan politik di daerahdaerah
yang sejak dulu mempunyai kebudayaan tinggi. Kemudian terjadi
perpaduan antara agama islam dengan kebudayaan setempat, yang telah
terkena pengaruh kebudayaan Yunani.

 Khalifah Usman bin Affan
Jasa besar Khalifah Usman (644-656 M) pada masa pemerintahannya adalah
dibukukannya secara resmi kitab suci Al Qur’an. Pekerjaan ini diserahkan kepada
Zaid bin Tsabit dan susunan Al Qur’an itu hingga sekarang tidak mengalami
perubahan
 Khalifah Ali bin Abi Thalib
Setelah berakhirnya pertentangan-pertentangan dalam tubuh Islam maka Ali,
menantu Nabi, menduduki jabatan kekhalifahan (656-661 M). Namun, keluarga
Ummayah tidak menyetujui Ali sebagai khalifah dan mereka mencalonkan
Mu’awaiyah (Gubernur Syria) sebagai khalifah. Akhirnya perang saudara tidak
dapat dihindarkan lagi. Dalam pertempuran di Siffin (657 M) pasukan Mu’awiyah
hampir dapat dihancurkan. Tetapi Mu’awiyah menggunakan tipu muslihat dan
berdalih untuk mencegah pertentangan maka mengajukan supaya dibentuk Badan
menjadi khalifah. Badan Pengadilan menentukan bahwa yang menang adalah
Mu’awiyah, keputusan itu tidak memuaskan Ali, sehingga bentrokan berjalan
terus. Pada tahun 661 Ali mati terbunuh, dengan demikian mulailah kekhalifahan
keluarga Ummayah
 Kekhalifahan Ummayah
Setelah kedudukan khalifah dikuasai oleh keluarga Ummayah (661-750 M).
Pusat kekuasaan negara Islam dipindahkan keluar Jazirah Arab, yaitu ke Syria
(Damaskus)
Pada masa ini, dasar-dasar demokrasi Arab lenyap, karena jabatan khalifah
dipegang secara turun temurun. Hidup khalifah sama dengan hidup raja dengan
kekuasaannya yang mutlak.
Wilayah kekuasaaan negara islam pada masa ini meliputi wilayah yang sangat
luas. Ke sebelah barat sampai ke daerah spanyol dan ke sebelah timur kedaerah
Pakistan dan Asia Tenggara. Perluasan wilayah ini dilakukan oleh :
· Musa memimpin tentara islam menyerbu kearah barat menyusuri daerah
Afrika utara samapai Maroko. Perjalanan ini dilanjutkan oleh Tarik dan
berhasil menduduki semenanjung Iberia serta menguasai Spanyol (712 M)
· Muhammad Kasim berhasil menduduki daerah lembah sungai Shindu (721
M)
· Maslama memimpin tentara Islam menyerang konstatinopel tetapi trap
serangan dapat dipukul mundur. Baru ada tahun 1453 M konstatinopel dapat
dikuasai.
Pada tahun 750 M, terjadi perebutan kekuasaan terhadap keluarga Ummayah
yang dilakukan oleh golongan Abbasiyah dalam perebutan kekuasaan itu, hampir
seluruh keluarga Ummayah dimusnahkan. Hanya seorang yang berhasil
meloloskandiri, yait Abdur Rachman.
 Kekhalifahan Abbasiyah
Pada masa ini pusat kekhalifahan dipinahkan dari Damaskus ke Bagdad.
Kekhalifahan Abbasiyah (750-1258 M) mengalami perkembangan yang cukup
pesat dan pada masa pemerintahan Harun Al Rasyid (786-809 M) mencapai
puncak yang gemilang. Hal ini tak lepas dari :
· Bagdad merupakan pelabuhan transito dan perdagangannya maju pesat
· Buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan baik dari Yunani maupun dari Persia
diterjemahan kedalam bahasa dan huruf Arab
· Harun Al Rasyid mengadakan persahabatan dengan Karel Agung (Perancis).
Peristiwa ini terjadi berdasarkan situasi politik sebagai berikut :
Bagdad bermusuhan dengan Byzantium dalam memperebutkan Asia kecil
Bagdad bermusuhan dengan keamiran Cordoba dalam memperebutkan
daerah pantai utara Afrika dan juga karena Cordoba tidak mau mengakui
kekhalifahan Bagdad
Perancis bermusuhan dengan Cordoba dalam memperebutkan daerah
Spanyol Utara, juga bermusuhan dengan Byzantium karena daerah Italia.
Dalam perebutan berikutnya kekhalifahan mengalami kemunduran. Hal ini
disebabkan oleh :
· Terjadinya perebutan jabatan khalifah diantara keluarga sediri, sehingga
dalam istana terdapat kelompok-kelompok yang saling bertentangan
· Pertentangan itu mengakibatkan pemerintahan pusat menjadi lemah, sehingga
daerah-daerah bagian banyak yang memerdekakan diri
 Kekhalifahan Cordoba
Abdur Rachman, satu-satunya keturunan kekhalifahan Ummayah yang
berhasil menyelamatkan diri dari serangan golongan Abbasiyah mendirikan
kekhalifahan Cordoba di Spanyol. Ia tetap menyebut dirinya Amir dan tidak mau
mengakui kekhalifahan Bagdad. Baru pada masa kekuasaan Abdur Rachman III,
Cordoba menyatakan dirinya sebagai khalifah dan kedudukannya seimbang
dengan kekhalifahan Bagdad (929 M).
Pada jaman kekhalifahan Cordoba ilmu Pengetahuan dan kebudayaan
berkembang pesat. Masjid-masjid banyak dibangun istana dan perpustakaan
didirikan ahli-ahli bangunan, tabib, pengarang, ahli-ahli fikir, ahli pakaian dan
ahli-ahli kemasyarakatan banyak terdapat di Cordoba.
Kemajuan dalam bidang kebudayaan itu mendorong orang-orang Eropa untuk
belajar di spanyol. Kebudayaan dari timur yang telah tinggi dan juga warisan
kebudayaan Romawi danYunani Kuno yang telah hidang dari Eropa Barat,
diketemukan kembali melalui Islam di spanyol
Daerah kekuasaan Islam pada perkembangan selanjutnya makin sempit. Akan
tetapi, pikiran-pikiran Islam makin meluas. Apabila mula-mula mempertahankan
dan meluaskan pengaruh Islam dengan pedang, tetapi pada waktu-waktu
berikutnya perluasan Islam dilakukan dengan jalan damai yaitu melalui
perdagangan. Melalui perdagangan inilah Islam masuk ke wilayah Indonesia.
B. PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA AGAMA DAN
KEBUDAYAAN ISLAM DI INDONESIA
Teori Masuknya Islam ke Indonesia
Agama dan kebudayaan Islam mengalami perkembangan yang cukup pesat di
wilayah Indonesia. Perkembangan ini berawal dari masyarakat indonesia yang berada
di daerah pesisir pantai dari daerah pesisir pantai inilah, agama dan kebudayaan Islam
dikembangkan ke daerah pedalaman oleh para ulama. Perkembangan di daerah
pedalaman ini ditujukan kepada kelangan istanan yaitu raja, keluarga raja dan kaum
bangsawan. Apabila raja dan kaum bangsawan telah masuk islam, maka rakyat sangat
patuh dan taat terhadap perintah-perintah rajanya.
1. Bukti-bukti Masuknya Islam ke Indonesia
Berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan di Indonesia, para ahli menafsirkan
bahwa agama dan kebudayaan islam diperkirakan masuk ke Indonesia pada sekitar
abad ke 7 M, yaitu pada masa kekuasaan kerajaan Sriwijaya. Penafsiran para ahli ini
diperkuat dengan berita-berita pada masa itu telah terdapat pedagang-pedagang Arab
yang melakukan aktifitas perdagangan di Kerajaan Sriwjaya, bahkan mereka telah
memiliki perkampungan tempat tinggal sementara dipusat Kerajaan Sriwijaya.
Pendapat lain membuktikan bahwa agama dan kebudayaan Islam masuk ke
wilayah Indonesia dibawa oleh para pedagang Islam dari Gujarat (India). Hal ini
dilihat dari penemuan unsur-unsur Islam di Indonesia yang memiliki persamaan
dengan India seperti batu nisan yang dibuat oleh orang-orang kambay, Gujarat.
Berdasarkan bukti-bukti ini para ahli membuat sebuah kesimpulan bahwa
agama dan kebudayaan Islam telah masuk ke Indonesia pada abad ke 7 M dibawa
para pedagang dari Arab. Persia dan India (Gujarat) dan berkembang secara nyata
sekitar abad ke 13 M.
2. Sumber-smber Berita Masuknya Agama dan Kebudayaan Islam di Indonesia
Masuk dan berkembangnya pengaruh agama dan kebudayaan Islam ke
Indonesia diperkuat oleh beberapa sumber berita sejarah, baik yang berasal dari luar
negeri maupun dari dalam negeri sumber-sumber berita itu diantaranya sebagai
berikut :
 Berita Arab
Berita ini diketahui melalui para padagang Arab yang telah melakukan
aktifitas dalam bidang perdagangan dengan bangsa Indonesia pada masa
perkembangan Kerajaan Sriwijaya (abad ke 7 M) sebagai Kerajaan maritim yang
menguasai jalur pelayanan perdagangan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk
Selat Malaka. Kegiatan para pedagang Arab di kerajaan Sriwijaya dibuktikan dengan
adanya sebutan para pedagang Arab untuk Kerajaan Sriwijaya, yaitu Zabag, Zabay
atau Sribusa.
 Berita Eropa
Berita ini datangnya dari Marcopolo, ia adalah orang eropa yang pertama kali
menginjakkan kakinya di wilayah Indonesia, ketika ia kembali dari Cina menuju
Eropa melalui jalan laut. Ia mendapat tugas dari kaisar cina untuk mengantarkan
putrinya yang dipersembahkan kepada kaisar Romawi. Dalam perjalanannya itu ia
singgah di Sumatra bagian Utara. Di daerah ini ia telah menemukan adanya Kerajaan
Islam, yaitu Kerajaan samudera dengan ibu kotanya Pasai.
 Berita India
Dalam berita ini disebutkan bahwa para pedagang India dari Gujarat
mempunyai peranan yang sangat penting didalam penyebaran agama dan kebudayaan
Islam di Indonesia, terutama kepada masyarakat yang terletak di daerah pesisir pantai.
 Berita Cina
Berita ini berhasil diketahui melalui catatan dari Ma-Huan seorang penulis
yang mengikuti perjalanan Laksamana Cheng-ho ia menyatakan melalui tulisannya
bahwa sejak kira-kira tahun 1400 telah ada saudagar-saudagar Islam yang bertempat
tinggal dipantai utara Pulau Jawa.
 Sumber-sumber dari dalam Negeri, Sumber-sumber ini diperkuat dengan
penemuan-penemuan seperti :
· Penemuan sebuah batu di Leran (dekat Gresik). Batu bersirat itu
menggunakan huruf dan bahasa Arab. Batu itu memuat keterangan tentang
meninggalnya seorang perempuan yang bernama Fatimah binti Ma’mun
(1028).
· Makam Sultan Malikul Saleh di Sumatera Utara yang meninggal pada bulan
Ramadhan tahun 676 M atau tahun 1297 M.
· Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik yang wafat tahun 1419. Jerat
makam didatangkan dari Gujarat dan berisi tulisan Arab.
Saluran Penyebaran Islam
 Perdagangan
Sejak abad ke 7 M para pedagang Islam dari Arab, Persia dan India telah ikut
ambil bagian dalam kegiatan perdagangan di Indonesia. Di samping berdagangan,
para pedagang Islam dapat menyampaikan dan mengajarkan agama dan budaya Islam
kepada orang lain termasuk masyarakat Indonesia.
 Perkawinan
Para pedagang Islam yang melakukan kegiatan perdagangan dalam waktu
yang cukup lama. Keadaan ini dapat mempererat hubungan mereka dengan penduduk
pribumi atau dengan kaum bangsawan pribumi. Jalinan hubungan yang baik ini
terkadang diteruskan dengan adanya perkawinan antara putri kaum pribumi dengan
para pedagang islam.
 Politik
Pengaruh kekuasaan seorang raja sangat besar peranannya dalam proses
Islamisasi. Ketika seorang raja memeluk agama Islam maka rakyat juga akan
mengikuti jejak rajanya.
Setelah tersosialisasinya agama islam, maka kepentingan politik dilakukan
melalui perluasan wilayah kerajaan, yang diikuti pula dengan penyebaran agama
Islam. Contohnya, Sultan Demak mengirimkan pasukannya untuk menduduki
wilayah Jawa Barat dan memerintahkanuntuk menyebarkan agama Islam. Pasukan itu
dipimpin oleh Fatahillah
 Pendidikan
Para ulama, guru-guru, ataupun para Kyai juga memiliki peranan yang cukup
penting dalam penyebarkan agama dan budaya Islam. Meraka menyebarkan agama
Islam melalui bidang pendidikan, yaitu dengan mendirikan pondok-pondok
pesantren.
 Kesenian
Saluran kesenian dapat dilakukan dengan mengadakan pertunjukkan seni
gamelan seperti yang terjadi di Yogyakarta, Solo, Cirebon, dan lain-lain. Seni
gamelan ini dapat mengundang masyarakat untuk berkumpul dan selanjutnya
dilaksankan dakwah-dakwah keagamaan. Disamping seni gamelan juga terdapat seni
wayang. Melalui cerita-cerita wayang itu para ulama menyisipkan ajaran agama Islam
.Contohnya:Sunan Kalijaga memanfatkan seni wayang untuk proses Islamisasi.
 Tasawuf
Para ahli tasawwuf hidup dalam kesederhanaan, mereka selalu berusaha untuk
menghayati kehidupan masyarakatnya dan hidup bersama ditengah-tengah
masyarakatnya. Para ahli tasawwuf ini biasanya memiliki keahlian yang dapat
membantu kehidupan masyarakat, diantaranya ahli dalam menyembuhkan penyakit.
Penyebaran agama-agama islam yang mereka lakukan disesuaikan dengan kondisi,
dalam pikiran, dan budaya masyarakat pada masa itu, sehingga ajaran-ajaran Islam
dapat mudah diterima oleh masyarakat. Contoh ahli tasawwuf antara lain Hamzah
Fansuri di Aceh dan Sunan Panggung di Jawa.
Melalui berbagai saluran diatas, Islam dapt diterima dan berkembang pesat
sejak sekitar abad ke 13 M. Alasanya adalah sebagai berikut .
· Islam bersifat terbuka.
· Penyebaran islam dilakukan secara damai.
· Islam tidak membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat.
· Upacara-upacara dalam agama Islam dilakukan dengan sangat sederhana.
· Ajaran Islam berupaya untuk menciptakan kesejahteraan kehidupan masyarakat
dengan adanya kewajiban zakat bagi yang memiliki harta.
Wali Songo
Para wali berjasa dalam menyebarkan agama dan kebudayaan Islam di
Indonesia dikenal dengan sebutan Wali Songo. Lima orang wali bermukim di Jawa
Timur, tiga orang di Jawa Tengah dan seorang di Jawa Barat. Para wali itu adalah
sebagai berikut :
1. Maulana Malik Ibrahim yang kabarnya berasal dari Persia dan kemudian
berkedudukan di Gresik.
2. Sunan Ngampel yang semula bernama Raden Rakhmat berkedudukan di Ngampel
( Ampel ), dekat Surabaya.
3. Sunan Drajat yang semula bernama Masih Munat juga putra Raden Rakhmat
yang berkedudukan di Drajat dekat sedayu ( Surabaya ).
4. Sunan Bonang yang semula bernama Makdum Ibrahim, putra Raden Rakhmat
dan berkedudukan di Bonang, dekat Tuban.
5. Sunan Giri yang semula bernama Raden Paku, murid sunan Ngampel
berkedudukan di bukit Giri Gresik.
6. Sunan Muria yang berkedudukan di Gunung Muria di daerah Kudus.
7. Sunan Kudus yang semula bernama Udung berkedudukan di Kudus.
8. Sunan Kalijaga yang semula bernama Joko Said berkedudukan di Kadilanyu
dekat Demak.
9. Sunan Gunung Jati yang semula bernama Fatahillah atau Faletehan yang berasal
dari Samudra Pasai. Ia dapat merebut Sunda Kelapa, Banten dan kemudian
menetap di Gunung Jati dekat Cirebon.
Selain wali songo terdapat juga syekh Siti Jenah atau Syekh Lemah Abang.
Karena mengajarkan ilmu tasawwuf, yang belum tepat pada saat itu, maka ia
dihukum bakar dan tidak dianggap termasuk kedalam wali songo.
Kita juga mengenal para pemikir Islam atau sufi seperti Hamzah Fansuri,
Naruddin Ar-Raniri. Mereka adalah pemikir sekaligus penulis yang produktif pada
awal masa perkembangan Islam.
Penyebar agama Islam yang lain di Jawa Tengah adalah Sunan Tembayat atau
Sunan Bayat. Ia berkedudukan di Klaten, ia menyebarkan agama Islam melalui
pendidikan di pondok pesantren.
C. PERWUJUDAN AKULTURASI KEBUDAYAAN INDONESIA DENGAN
KEBUDAYAAN ISLAM
Seni bangunan
1. Masjid
Dipandang dari sudut arsitekturnya, masjid-masjid yang terdapat di Indonesia,
terutama pada masjid-masjid kuno dengan masjid-masjid di negeri lainnya. Adapun
ciri khas menjadi pada zaman Islam di Indonesia adalah sebagai berikut :
a. Atap
Atap bukan berupa kubah, melainkan berupa atap tumpang, yaitu atap yang
bersusun, semakin keatas semakin kecil. Tingkatan paling atas membentuk limas.
Jumlah tumpang selalu ganjil (gasal) biasanya 3 tapi ada juga yang lain seperti pada
masjid Banten.
Pada surau-surau, atapnya mempunyai ciri tersendiri yaitu seperti limas tetapi
tidak bersusun melainkan runcing pada puncaknya. Bentuk seperti ini sering dijumpai
pada relief-relief di Jawa Timur. Hiasan yang terdapat pada puncak atap masjid dan
surau disebut mustaka (biasanya terbuat dari tanah bakar atau benda lainnya)
b. Menara
Meskipun menara bukan bagian masjid yang harus ada, namun dalam seni
bangunan Islam selalu merupakan bagian tambahan yang memberi keindahan.
Menara pada masjid kudus da masjid banten cukup unik bentuknya. Menara masjid
kudus merupakan sebuah candi jawa timur yang telah diubah dan disesuaikan
penggunaannya serta diberi atap tumpang, sedang menara masjid banten adalah
tambahan yang diusahakan oleh seorang pelarian belanda bernama Cardeel.
Sebenarnya bentuk menara ini yang lebih tinggi dapat dijadikan mercu suar seperti
pada bangunan-bangunan yang terdapat di Eropa.
c. Letak masjid
Pada umumnya masjid dirikan berdekatan dengan istana kalau disebelah utara
dan selatan istana biasanya terdapat sebuah lapangan, yang dijawa disebut alun-alun,
maka masjid didirikan di tepi barat alun-alun.
Masjid sering juga ditemukan di tempat-tempat keramat, yaitu tempat makam
seorang raja, wali atau ahli agama yang termasyur.
Masjid-masjid itu diantaranya :
· Masjid Agung Cirebon yang bertingkat dua dan dibangun pada awal abad
ke 16 M
· Masjid katangka di Sulawesi Selatan dari abad ke 17 M
· Masjid-masjid yang terdapat di Jakarta seperti masjid Angke, Tambora Marunda
· Masjid Agung Demak yang berdiri abad ke 16 M
· Masjid Baiturahmah dibangun pada masa Sultan Iskandar
· Masjid Ternate
· Madjid Jepara
· Madjid Agung Banten dibangun pada abad ke 16 M
2. Makam
Makam sebagai tempat kediaman yang terakhir dan abadi diusahakan pula
menjadi perumahan yang sesuai dengan orang yang dikur disitu. Pemakaman para
raja bentuknya seperti sebuah istana, seakan-akan makam itu disamakan dengan
tempat orangnya ketika masih hidup. Makan itu juga merupakan gugusan cungkup
dan jirat-jirat yang dikelompokkan menurut hubungan kekeluargaan.
Makam tertua di indonesia adalah makam fatimah binti Maimun yang telah
terkenal dengan nama putri Suwari di Leran (tahun 1982 M), dan makamnya justru
diberi cungkup. Makam ini mirip candi. Hal ini membuktikan bahaw pada abad ke
11 M masyarakat masih terikat pada bentuk candi.
Makam-makam kuno itu diantaranya :
· Makam dan Gapura Sendang Duwur letaknya diatas bukit di daerah Tuban
· Cungkup makan Putri Suwari di Lenan (Gresik)
· Makam Malikul Saleh di Samudera Pasai
· Makam Syekh Maulana Malik Ibrahin di Gresik
· Menara Masjid Kudus, bentuknya serupa dengan candi yang terdapat di Jawa
Timur
· Makam memakai Ghunongan yang ditemukan di Madura
Aksara dan seni rupa
Penulis aksara-aksara (huruf-huruf) Arab di Indonesia, biasanya dipadukan
dengan seni jawa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Huruf-huruf Arab yang tertulis
dengan sangat indah itu disebut dengan seni kaligrafi (seni Kath dan Kholt).
Seperti juga jenis karya seni rupa islam lainnya, perkembangan seni kaligrafi
Arab di Indonesia kurang begitu pesat, apalagi dibandingkan dengan negara-negara
lain. Hal ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
· Penggunaan seni kaligrafi Arab sebagai hiasan di Indonesia masih sangat terbatas
· Bangunan-bangunan kuno pada permulaan berdirinya Kerajaan Islam kurang
memberi peluang bagi penerapan seni kaligrafi
· Bangunan masjid-masjid kuno seperti masjid Banten, Cirebon, Demak dan Kudus
kurang memperhatikan penggunaan Seni Kaligrafi Arab
Seni Kaligrafi hadir dengan kondisi yang kurang menguntungkan, tetapi dapat
dikatakan tetap ada perkebangan, karena seni kaligrafi tetap diperlukan untuk
berbagai macam keperluan seperti :
· Untuk hiasan pada bangunan-bangunan masjid
· Untuk motif hiasan batik
· Untuk hiasan pada keramik
· Untuk hiasan pada keris
· Untuk hiasan pada batu nisan dan
· Untuk hiasan pada dinding rumah
Sampai saat sekarang seni kaligrafi berkembang di Indonesia, terutama dalam
seni ukir. Seni ukir kaligrafi ini dikembangkan oleh masyarakat dari Jepara.
Seni Sastra
Perkembangan awal seni sastra Indonesia pada zaman Islam berkisar di
sekitar Selat Malaka (daerah Melayu) dan di Jawa.
Dibandingkan seni sastra zaman Hindu, hasil-hasil seni sastra zaman Islam
tidak terlalu banyak yang sampai kepada kita. Hal ini disebabkan seni sastra daerah
belum mampu sebagai tempat menyimpan. Mengabadikan, melangsungkan dan
meneruskan hasil-hasil karya karangan sastra zaman Islam kepada kita.
Seni sastra zaman Islam yang berkembang di Indonesia sebagian besar
mendapat pengaruh dari Persia, seperti cerita-cerita tentang Amir Hamzah, Bayan
Budiman, 1001 malam (alf lailawa laila).
Dalam seni sastra zaman Islam di daerah melayu dikenal Syair Ken
Tambunan, Lelakon Mahesa Kumitir, Syair Panji Sumirang, Cerita Wayang
Kinundang, Hidayat Panji Kuda Sumirang, Hidayat Cekel Waneng Pati, Hidayat
Panji Wilakusuma.
Disamping seni sastra tersebut diatas, juga terdapat kitab-kitab suluk. Kitabkitab
suluk. Kitab-kitab ini bercorak magis dan berisi ramalan-ramalan dan penetuan
hari-hari baik dan buruk, serta pemberiaan-pemberiaan makna pada suatu kejadian.
Beberapa contoh dari kitab suluk adalah sebagai berikut :
· Suluk Sukarsa : isinya untuk menceritakan seseorang ( Ki Sukarsa) yang mencari
ilmu untuk mendapatkank kesempurnaan
· Suluk Wujil : isinya wejangan-wejangan sunan Bonang kepada Wujil (Wujil
adalah seorang kerdil bekas abdi Raja Majapaihit)
· Suluk Malang Sumirang : isinya mengagungkan orang yang telah mencapai
kesempurnaan dan bersatu dengan Tuhan
Sistem Pemerintahan

Kerajaan Samudra Pasai sebagai isla yang pertama, diperkirakan berdiri pada
abad ke 13 M. Kerajaan ini merupakan kerjaan pertama yang menganut siste
pemerintahan yang bercorak Islam.
Dalam perkembangan selanjutnya di daerah-daerah lain di Indonesia mulai
bermunculan sistem pemerintahan bercorak Islam, termasuk daerah-daerah pesisir
pantai. Perkembangan ini semalam bertambah pesat setelah runtuhnya Kerajaan
Majapahit dan berdirinya Kerajaan Demak dengan raja pertamanya Raden Patah.
Oleh karena itu, pada abad ke 16 M hampir diseluruh wilayah Indonesia
terdapat pusat-pusat pemerintahan Islamdengan rajanya bergelar Sultan.
Filsafat dan Ajaran Islam

Dalam perjalannya, Islam sebagai agama mengalami banyak perkembangan
dalam alam pikiran yang pada hakikatnya untuk mengimbangi perkembangan jiwa
masyarakat pendukungnya. Dalam abad ke 18 tersusun dasar-dasar ilmu fikih yaitu
ilmu yang menguraikan segala macam peraturan serta yaitu ilmu yang menguraikan
segala macam peraturan serta hukum guna menetapkan kewajiban-kewajiban
masyarakat Islam terhadap Tuhan dan terhadap sesama manusia. Pada abad ke 10 M
lahirlah dasar-dasar Ilmu Qalam, yaitu berisi penetapan segala abad ke 11 lahir dasardasar
ilmu Tasawwuf, yaitu memberi jalan kepada manusia untuk mendekatkan diri
kepada Tuhan berdasarkan Cinta terhadapNya. Ketiga ilmu itulah yang menjadi dasar
filsafat dan pegangan umat islam.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites