Rabu, 31 Agustus 2011

Tuhan Mengutuk Israel, Kenapa Kristen Memberkati Israel

Kristologi

alt
Pekan ini, Komunitas “Pengikut Kristus Pendukung Israel” yang dikomandani Samuel Unggun Dahana menghebohkan umat Islam. Jemaat Gereja Kristen Jawa di Bandung itu memprakarsai perayaan HUT Kemerdekaan Israel ke-63 (63rd Israel Independence Day Ceremony in Jakarta), tanggal 14 Mei 2011 di Jakarta. Meski Samuel Dahana gagal merayakan HUT Israel, tapi diam-diam kelompok Indonesia-Israel Public Affair Committee (IIPAC) merayakan HUT Israel di sebuah hotel di kawasan Puncak Bogor, Jawa Barat.

Samuel mengaku, ia dan komunitas kristiani lainnya ingin merayakan HUT Israel karena doktrin mencintai Israel yang ditanamkan gereja berdasarkan ayat-ayat Alkitab (Bibel). Ayat Bibel yang mewajibkan umat Kristen untuk mencintai Israel adalah ayat berikut:

“Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kejadian 12:3).

Atas dasar ayat ini, Samuel dan pengikutnya meyakini bahwa bangsa Israel yang sekarang ini adalah bangsa yang dikasihi Tuhan alias “anak emas” Tuhan yang wajib diberkati dan didoakan, meskipun banyak orang di dunia mengutuk kebiadaban Israel di Palestina.

Dukungan Samuel terhadap Israel memang membabi buta. Dengan kacamata kuda bahwa ‘Israel adalah umat pilihan Tuhan’, ia hanya membaca tekstual ayat Bibel tanpa melihat ayat lainnya sembari mengabaikan fakta-fakta historis.

Padahal kalau mau berpikir objektif, tidak bisa disamakan begitu saja bangsa Israel yang tertuang dalam Bibel, dengan bangsa Israel saat ini. Bangsa Israel yang sekarang ini menjajah Palestina lebih bersifat politis daripada keagamaan.

Menurut Pendeta Dr Barnabas Ludji MTh, bangsa Israel yang sekarang ini adalah bangsa yang dulu tersebar di mana-mana, lalu mendirikan sebuah negara demokrasi, bukan theokrasi. Apalagi, tidak semua orang Israel yang sekarang ini percaya pada Alkitab, dan di Israel juga terjadi pembakaran gereja. Karena itu, dosen Perjanjian Lama STT Cipanas ini meminta umat Kristen untuk tidak mengindentifikasikan dirinya sama seperti Israel. Maka nas Kejadian 12:3 dan Bilangan 24:9 tidak bisa ditafsirkan secara harafiah, bahwa orang yang mengutuk Israel –karena tindakan Israel yang tidak manusiawi– maka akan menjadi orang yang terkutuk. (Reformata, Agustus 2010).

Apapun yang dilakukan bangsa Israel, Samuel dan para pengikutnya senantiasa memberkati dan mendoakan  Israel. Mereka tak peduli bahwa perilaku bangsa Israel terhadap Palestina yang menimbulkan banyak korban nyawa, adalah tindakan yang benar-benar bertentangan dengan karakter “bangsa pilihan Allah.”

Padahal pembunuhan adalah perbuatan terkutuk dosa besar yang tercantum Sepuluh Firman (The Ten Commandments).

"Jangan membunuh" (Keluaran 20:13 & Ulangan 5:17).

"Terkutuklah orang yang membunuh sesamanya manusia dengan tersembunyi. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!" (Ulangan 27:24).

Aneh jika Samuel Dahana dan umat Kristen lainnya tidak mau mengutuk bangsa Israel yang melakukan pembunuhan secara keji, biadab  dan tidak manusiawi terhadap Palestina, padahal Allah terang-terangan mengecam para pembunuh sebagai manusia terkutuk di mata-Nya.

Sebagai umat kristiani yang mengklaim sebagai agama kasih pengikut Yesus, sangat ironis jika Samuel dan komunitasnya lebih mencintai Israel yang hobi membunuh Palestina, padahal Yesus secara tegas menyatakan bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi sesama manusia.

“Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Matius 22: 39-40).

Dengan fakta-fakta di atas, klaim Samuel dan komunitasnya yang mengaku pengikut agama kasih ajaran Yesus patut diragukan, bila mereka enggan mengutuk kebiadaban bangsa Israel yang banyak melakukan pembunuhan di muka bumi.

A. Ahmad Hizbullah MAG
[www.ahmad-hizbullah.com]



(box)

Karut-Marut Berkat Tuhan dalam Bibel


alt
Samuel Dahana dan komunitas “Pengikut Kristus Pendukung Israel” harus objektif dan ilmiah menafsirkan ayat-ayat pemberkatan Israel dalam Perjanjian Lama Bibel.

Menurut Bibel, Yakub disebut Israel oleh Tuhan bermula pada suatu malam ketika Yakub bergumul melawan Tuhan sampai subuh, dengan hasil kemenangan mutlak di tangan Yakub.

“Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang. Bertanyalah Yakub: “Katakanlah juga namamu.” Tetapi sahutnya: “Mengapa engkau menanyakan namaku?” Lalu diberkatinyalah Yakub di situ. Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: “Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!” (Kejadian 32: 28-30).

Sebelumnya kitab Kejadian 27:1-40 menceritakan, Ishak (putra Abraham yang kedua, adik kandung Ismail) mempunyai seorang istri bernama Ribkah dan dua orang putra yaitu Esau dan Yakub. Ribkah yang adalah menantu Abraham itu pilih kasih kepada anaknya. Dia lebih mengasihi Yakub daripada Esau, anak sulungnya.

Karena Ishak sudah tua dan sudah tidak bisa melihat, maka sesuai dengan tradisi turun-temurun, dia harus memberkati anaknya yang sulung, yaitu Esau. Tetapi, dengan sangat liciknya Ribkah dan Yakub menyusun rekayasa jahat agar yang diberkati oleh Ishak adalah Yakub itu.

Dengan sebuah tipuan ulung atas bantuan ibunya, Yakub dapat mengelabui Ishak yang sudah buta, sehingga dia dianggap sebagai Esau, akhirnya Yakublah yang diberkati oleh Ishak dalam nama Tuhan: “Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah ia” (Kejadian 27:29)

Dengan kata lain, Yakub diberkati Tuhan setelah terjadinya beberapa skandal: Ishak ditipu anak dan istrinya; Esau dikhianati adik dan ibunya; Ribkah durhaka kepada suami dan anak kandungnya.

Ternyata dengan berkat yang diperoleh secara tidak halal itu, keluarga Yakub malah diterpa berbagai skandal perzinaan yang sangat terkutuk, antara lain: gundik Yakub ditiduri Ruben, anak kandungnya yang sulung (Kejadian 35:22); dan Yehuda, anak kandung Yakub menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38:13-19).

Samuel dan komunitasnya harus menafsir ulang doktrin keterpilihan Israel sebagai bangsa yang diberkati Tuhan, karena pada ayat yang lain, Israel juga kerap mendapat julukan negatif.

Yesus sendiri, meskipun misinya diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel (Matius 15:24), tapi dia menyebutkan bangsa Yahudi itu bagaikan serigala, dan dia mengingatkan kepada para utusannya berlaku cerdik seperti ular, dan tulus seperti merpati (Matius 10:16). Yesus juga pernah menyebut kaum Farisi, penganut murni Agama Yahudi sebagai keturunan ular beludak (Matius 12:33) dan angkatan yang jahat (Matius 12:39). Sedangkan Yerusalem disebut Yesus sebagai pembunuh para nabi (Matius: 23:37).

Dalam Perjanjian Lama, Musa menyebut, orang-orang Israel yang durhaka dan hobi memanipulasi kebenaran kitab suci dengan julukan “orang degil” dan orang yang “tegar tengkuk” terhadap Tuhan (Ulangan 31:27) dan kaum “penentang Tuhan” (Ulangan 9:24). Kitab Mikha menyebut kaum Yakub dan para pemimpin kaum Israel sebagai orang yang muak ter¬hadap keadilan dan yang membengkokkan segala yang lurus, karena mereka memu¬tus¬¬kan hukum karena suap, dan para imamnya mem¬beri pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang (Mikha 3:9-11).

Sudah saatnya Samuel Dahana dan jemaatnya merevisi pandangannya tentang teologi rasialis bahwa berkat dan kutuk Tuhan tergantung kepada bangsa Israel. Bukankah Yesus mewasiatkan bahwa orang yang diberkati adalah orang yang datang dalam nama Tuhan? “Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan!” (Matius 23:39).

Bukankah dalam kitab Ulangan 10:17 Tuhan menyatakan tidak akan memandang bulu terhadap manusia? Bukankah Tuhan telah menjamin bahwa Dia tidak akan membeda-bedakan orang berdasarkan suku bangsanya?

“Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamal¬kan kebenaran berkenan kepada-Nya” (Kisah Para Rasul 10:34-35).

Pandangan ini selaras dengan ajaran Al-Qur'an bahwa kemuliaan manusia di hadapan-Nya tidak berdasarkan suku bangsanya, tapi berdasarkan ketakwaan. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu” (Qs (Al-Hujurat 13). Karena berkah surgawi disediakan bagi orang yang beriman dan beramal shalih (Al-Kahfi 107, Al-Baqarah 25), bukan diberikan secara pilih kasih kepada satu suku bangsa. []

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites